Saya seringkali terpikir hal apa yang paling tepat dilakukan saat terbangun di pagi hari untuk memulai hidup. Kata orang, kesempatan hidup yang cuma satu kali ini janganlah dipakai dengan sia-sia. Sementara parameter memaknai hidup setiap orang tentunya berbeda-beda. Adayang melihat hidup sebagai suatu kesempatan, sehingga orang diharapkan untuk mempergunakan waktu mereka sebaik-baiknya. Waktu yang terlewat tanpa melakukan apa-apa akan dianggap sebagai kerugian. Adayang melihat hidup sebagai suatu panggung, banyak lakon yang harus diperankan namun pada akhirnya itu terserah yang membuat lakon. Adapula yang memandang hidup sebagai aliran air, dan mereka akan mengalir sesuai arah aliran air, tidak mungkin menentang arus. Masih banyak lagi …
Saya menjadi berpikir, apabila saya menggabungkan semua elemen makna tersebut di atas untuk memaknai hidup saya, lalu, bagaimana saya memulainya setiap hari ? Sebuah proses selalu ada awalan. Dan awalan itu tidak lagi dapat dikesampingkan karena menyatu dan memberi dampak bagi proses tersebut. Untuk itulah meskipun terlihat sepele tapi saya sedang mencari formula untuk mengawali hari saya dalam ‘grand master’ hidup saya. Jangan bilang ‘gitu aja koq repot ..’ ( like gus dur says … ) karena saya tidak ingin 86.400 detik setiap hari yang telah diberikan oleh ‘Yang Memberi Hidup’ terbuang begitu saja tanpa saya menyadarinya. Paling tidak, jika saya sudah memilih untuk melakukan sesuatu, terlepas apapun konsekuensinya, saya tidak akan menyesalinya.
Seorang teman memulai hari dengan minum secangkir kopi panas, duduk dalam singgasananya di teras rumah sambil membaca koran pagi ditemani kicauan burung peliharaannya. Seorang teman yang tinggal di ibukota selalu langsung lari ke kamar mandi, gebyar-gebyur dengan terburu-buru karena harus mengejar waktu supaya tidak kena macet. Teman dekat saya malahan selalu menyalakan komputernya, menyetel musik MP3 sambil menyetel TV juga. Betapa bisingnya ! Namun beberapa perilaku tersebut menandakan ada banyak hal yang mereka tidak bisa lewatkan. Dan, saya koq tetap menjadi bingung ya …
Saya pernah mencoba bangun sebelum matahari terbit, sedikit membuka jendela agar udara pagi terhirup segar, membuat secangkir teh panas, dan duduk menikmatinya. Namun, entah karena memang saya yang kelelahan atau karena hanya terdiam, malahan saya menjadi terkantuk lagi. Lalu, saya pernah langsung menyetel radio / TV, siaran berita menjadi pilihan saya, biar tidak dibilang ketinggalan berita hangat. Anehnya, sepanjang hari itu kepala saya menjadi terasa penuh dan berat. Seolah segala peristiwa yang terjadi hari itu dari ujung ke ujung terngiang-ngiang. Apa jadinya kalo berita di dominansi musibah kecelakaan, kriminalitas, kekacauan… aduh…no way !
Saya adalah salah satu dari orang kebanyakan yang baru belajar memaknai hidup. Tidak ingin muluk-muluk tapi tidak mau sia-sia. Saya belajar bahwa prosesi hidup saya sehari-hari sangat mudah tergantung pada awalan yang saya lakukan. Apalagi ketika menyadari bahwa saya adalah orang yang dipilih untuk hidup. Ketika begitu banyak musibah di semua belahan dunia, begitu banyak nyawa yang menjadi korban, membawa saya dalam kesadaran bahwa hidup ini diberikan kepada kita bukan karena kita yang meminta-minta namun karena kehendak ‘Yang Memberi Hidup’. Dan, tentunya juga bukan hak kita untuk menjadikan hidup sebagai mainan, semau-maunya kehendak kita. Apa yang sudah kita kerjakan untuk meresponi ‘Yang Memberi Hidup’ ?
PR tersebut di atas membuat saya ingin lebih lagi belajar memaknai hidup dengan segala lika-likunya. Dan, awalan yang saya pilih untuk memulai hidup adalah dengan datang kepada ‘Yang Memberi Hidup’, menyediakan waktu khusus begitu membuka mata dan masuk dalam dialog hati denganNya. Itu adalah saat dimana prosesi ‘serah-terima’ kehidupan terjadi dan saya menerima kehormatan dariNya untuk bisa menjalani hidup saya, satu hari lagi, setiap hari.
Sebuah pilihan awalan yang sederhana namun berarti. Bukan hanya berarti untuk ‘kesuksesan’ prosesi sepanjang hari itu namun juga berarti untuk pertanggungjawaban kepada ‘Yang Memberi Hidup’. Dialog kepasrahan kepadaNya akan membantu kita lebih peka memaknai hidup.
Tidak menjadi masalah apakah yang menjadi pilihan Anda untuk awalan hari Anda. Tidak ada parameter yang bisa menilai dengan tepat apakah sebuah kegiatan pada awalan Anda adalah sudah tepat atau belum. Tidak juga terlalu penting membuat kotak-kotak untuk pilihan awalan dan memberi label maksimal atau minimal, berguna atau sia-sia, karena pilihan ada di tangan Anda. Yang lebih penting adalah, hal hakiki yang ada jauh di dalam hati kita, kedahagaan akan makna kehidupan, sehingga apa pun yang menjadi awalan kita dapat menjadi kendaraan kita untuk mencapai pembelajaran terhadap kehidupan dari ‘Yang Memberi Kehidupan’.
Bagaimanakah awalan Anda untuk memulai hidup ? …
[ ... one more day to see Your beauty ... ]