Lean on U …

Easy to say but not so easy when we are in need …

Saya bukan orang yang menikmati ketergantungan. With all those cultures, mindsets and daily living habits, I just can’t give myself to be so dependable to others. Leaning  On ? ..well, honestly for me, its just another way to say tentang ketergantungan. Mungkin saya terlalu dramatic untuk meresponi issue tentang ketergantungan sehingga somehow, somewhere in my life episode, ternyata saya harus belajar mengkoreksinya.

… I was so in needs of helping hands, and still am …

I was so ill for a while until I can barely stand and walk on my own .. so helpless. It was just killing me inside that I could not do almost anything by myself … ( O help me God )

but … the words of Gods was and is overflowing..

a friend of mine texted me “de, u know whom u should lean on… it’s ok just to be a kid sometimes” and here the song from him (in javanese) :

Nyender neng sisine sopo

Nyender neng Gusti Yesus

Nyender nyender nyender nyender

Nyender neng Gusti Yesus

(dalam Bahasa Indonesia)

Bersandar di sisi siapa

Bersandar ke Tuhan Yesus

 

Sederhana, singkat… but I was so down in bended knees with full of tears.

There’s nothing I could do but just kept leaning on HIM, the only source of power and strength.

Now I understand …

 

Perbedaan besar saat berjalan dengan kekuatan sendiri atau berjalan namun bergantung dalam kekuatanNYA adalah titik awal sebuah KETAATAN. Taat dalam kesadaran bahwa kita hanyalah manusia, lemah bila tanpa tangan kuatNYA yang menopang, mati bila tanpa hembusan nafasNYA.

Menjadi pribadi yang mandiri, tidak lagi selalu berarti bisa berjalan sendiri, melainkan taat dibentuk agar menjadi semakin indah untuk menampilkan kekuatan keilahian yang telah dikaruniakanNYA.

 

Lean on U

It’s only by YOUR Grace that I will live today !

 

 

[ thanks @Dan - for keep encouraging me when I was in the middle of nowhere ]

I have to write …

I have to write …

even in my silence

even with my frozen hands

even in my confusion

even in my sadness

even in my coldness

…. somehow, i will find a dim light of happiness in the still of my lonely nights

just me, and my words …

Silence (part 2)

… just be here, next to me …

… just hold me closer, hold me tightly …

… then, just kiss away the tears in my silence …

Silence

……
dan, aksara menghilang …
luruh tak berdaya untuk melafalkan diri
……
and, just be silent, still.

Ajar aku berharap …

Biasanya harapan muncul karena ketidakpuasan terhadap sesuatu sehingga ber’harap’ untuk bisa merubah keadaan. Biasanya harapan lahir  dengan suatu kesadaran diri sendiri, bahwa ‘ya, ini yang aku harapkan’, bukan karena mengikuti arus harapan kebanyakan orang.

Saya tergelitik dengan syair ‘ajar aku berharap’ saat menyanyikan sebuah lagu. Jiwa saya menjadi berdebar ketika melafalkan kalimat tersebut. Mengapa saya harus belajar berharap dari pihak lain? Apakah saya sudah tak berkeinginan sehingga tak memiliki secuilpun harapan? Saya melihat bahwa saya masih hidup dan bernafas dan saya terlalu percaya bahwa seorang yang memiliki kehidupan pastilah tak akan lepas dari keinginan-keinginan yang melahirkan harapan. Namun, jiwa saya mengaminkan ketika kalimat tersebut di atas dilafalkan, bahkan saya mendapati jiwa saya mengiba dalam mengucapkannya.

‘Ya, ajar aku berharap hanya kepadaMu’ telah menampar keakuan saya. Bahwa saya adalah sebuah karyaNya, tidak lebih dari itu. Sebuah karya tidak akan melebihi penciptanya. Sebuah karya akan seturut dengan kehendak penciptanya. Sebuah karya akan berjalan sesuai dengan waktu yang ditentukan penciptanya.

Dimanakah saya sekarang ? Padahal saya justru sibuk untuk membangun gunung-gunung keinginan pribadi yang tak satu pun dikonfirmasikan dengan pencipta saya. Saya lebih memilih untuk menimbang-nimbang sebuah tugas berdasarkan kesukaan belaka. Saya juga lebih sering mendahulukan cara pandang yang instan atas nama sebuah kemalasan. Betapa bodohnya saya selama ini …

‘Ajarku berharap hanya kepadaMu…’ akhirnya menjadi awalan kalimat saya untuk membuka sebuah dialog hati dengan Sang Pencipta. Itu adalah pengakuan saya akan kebesaran dan kemahakuasaanNya. Bahwa saya ada di dalam tangan kuasaNya. Jika Ia mau, saya akan menjadi debu dengan sangat cepatnya. Saya bisa menjadi apa saja seperti yang dikehendakinya.

‘Ajarku berharap hanya kepadaMu…’ adalah persembahan hidup saya untuk mengakui kedaulatanNya. Bahwa, sebuah karya akan belajar dari penciptanya, bahkan hanya untuk berharap.

Ajarku berharap hanya kepadaMu…untuk Engkau jadikan karya yang indah sesuai dengan waktuMu, meskipun Engkau memberiku kehendak bebas.

Bagaimanakah Anda berharap ?

[ inspired from ‘jadikan aku indah’ song by GMB ]

Sebuah Awalan

Engkau adalah Yang Awal

Yang menjadikan permulaan menjadi awal

Membentuk lekukan-lekukan hari

Menoreh sapuan warna

Dan menghembuskan nafas kehidupan

Engkau adalah Yang Awal

Yang menjadikan kehidupan menjadi ada

Dengan segala lorong dan likunya

Berdenyut dalam tumpuan kaki

Seturut detik yang telah ditentukan

Engkau adalah Yang Awal

Yang menenun benang ragawi

Disabdakan oleh sebuah kemahakuasaan

Dibekali kehendak yang bebas

Untuk menyaksikan ketakterbatasan

Dan, Engkau akan tetap menjadi Yang Awal

Menjadi awalan ketika roda mulai bergerak

Berjalan dan berproses

Menemukan Sang Kehidupan

Memulai Hidup …

Saya seringkali terpikir hal apa yang paling tepat dilakukan saat terbangun di pagi hari untuk memulai hidup. Kata orang, kesempatan hidup yang cuma satu kali ini janganlah dipakai dengan sia-sia. Sementara parameter memaknai hidup setiap orang tentunya berbeda-beda. Adayang melihat hidup sebagai suatu kesempatan, sehingga orang diharapkan untuk mempergunakan waktu mereka sebaik-baiknya. Waktu yang terlewat tanpa melakukan apa-apa akan dianggap sebagai kerugian. Adayang melihat hidup sebagai suatu panggung, banyak lakon yang harus diperankan namun pada akhirnya itu terserah yang membuat lakon. Adapula yang memandang hidup sebagai aliran air, dan mereka akan mengalir sesuai arah aliran air, tidak mungkin menentang arus. Masih banyak lagi …

Saya menjadi berpikir, apabila saya menggabungkan semua elemen makna tersebut di atas untuk memaknai hidup saya, lalu, bagaimana saya memulainya setiap hari ? Sebuah proses selalu ada awalan. Dan awalan itu tidak lagi dapat dikesampingkan karena menyatu dan memberi dampak bagi proses tersebut. Untuk itulah meskipun terlihat sepele tapi saya sedang mencari formula untuk mengawali hari saya dalam ‘grand master’ hidup saya. Jangan bilang ‘gitu aja koq repot ..’ ( like gus dur says … ) karena saya tidak ingin 86.400 detik setiap hari yang telah diberikan oleh ‘Yang Memberi Hidup’ terbuang begitu saja tanpa saya menyadarinya. Paling tidak, jika saya sudah memilih untuk melakukan sesuatu, terlepas apapun konsekuensinya, saya tidak akan menyesalinya.

Seorang teman memulai hari dengan minum secangkir kopi panas, duduk dalam singgasananya di teras rumah sambil membaca koran pagi ditemani kicauan burung peliharaannya. Seorang teman yang tinggal di ibukota selalu langsung lari ke kamar mandi, gebyar-gebyur dengan terburu-buru karena harus mengejar waktu supaya tidak kena macet. Teman dekat saya malahan selalu menyalakan komputernya, menyetel musik MP3 sambil menyetel TV juga. Betapa bisingnya ! Namun beberapa perilaku tersebut menandakan ada banyak hal yang mereka tidak bisa lewatkan. Dan, saya koq tetap menjadi bingung ya …

Saya pernah mencoba bangun sebelum matahari terbit, sedikit membuka jendela agar udara pagi terhirup segar, membuat secangkir teh panas, dan duduk menikmatinya. Namun, entah karena memang saya yang kelelahan atau karena hanya terdiam, malahan saya menjadi terkantuk lagi. Lalu, saya pernah langsung menyetel radio / TV, siaran berita menjadi pilihan saya, biar tidak dibilang ketinggalan berita hangat. Anehnya, sepanjang hari itu kepala saya menjadi terasa penuh dan berat. Seolah segala peristiwa yang terjadi hari itu dari ujung ke ujung terngiang-ngiang. Apa jadinya kalo berita di dominansi musibah kecelakaan, kriminalitas, kekacauan… aduh…no way !

Saya adalah salah satu dari orang kebanyakan yang baru belajar memaknai hidup. Tidak ingin muluk-muluk tapi tidak mau sia-sia. Saya belajar bahwa prosesi hidup saya sehari-hari sangat mudah tergantung pada awalan yang saya lakukan. Apalagi ketika menyadari bahwa saya adalah orang yang dipilih untuk hidup. Ketika begitu banyak musibah di semua belahan dunia, begitu banyak nyawa yang menjadi korban, membawa saya dalam kesadaran bahwa hidup ini diberikan kepada kita bukan karena kita yang meminta-minta namun karena kehendak ‘Yang Memberi Hidup’. Dan, tentunya juga bukan hak kita untuk menjadikan hidup sebagai mainan, semau-maunya kehendak kita. Apa yang sudah kita kerjakan untuk meresponi ‘Yang Memberi Hidup’ ?

PR tersebut di atas membuat saya ingin lebih lagi belajar memaknai hidup dengan segala lika-likunya. Dan, awalan yang saya pilih untuk memulai hidup adalah dengan datang kepada ‘Yang Memberi Hidup’, menyediakan waktu khusus begitu membuka mata dan masuk dalam dialog hati denganNya. Itu adalah saat dimana prosesi ‘serah-terima’ kehidupan terjadi dan saya menerima kehormatan dariNya untuk bisa menjalani hidup saya, satu hari lagi, setiap hari.

Sebuah pilihan awalan yang sederhana namun berarti. Bukan hanya berarti untuk ‘kesuksesan’ prosesi sepanjang hari itu namun juga berarti untuk pertanggungjawaban kepada ‘Yang Memberi Hidup’. Dialog kepasrahan kepadaNya akan membantu kita lebih peka memaknai hidup.

Tidak menjadi masalah apakah yang menjadi pilihan Anda untuk awalan hari Anda. Tidak ada parameter yang bisa menilai dengan tepat apakah sebuah kegiatan pada awalan Anda adalah sudah tepat atau belum. Tidak juga terlalu penting membuat kotak-kotak untuk pilihan awalan dan memberi label maksimal atau minimal, berguna atau sia-sia, karena pilihan ada di tangan Anda. Yang lebih penting adalah, hal hakiki yang ada jauh di dalam hati kita, kedahagaan akan makna kehidupan, sehingga apa pun yang menjadi awalan kita dapat menjadi kendaraan kita untuk mencapai pembelajaran terhadap kehidupan dari ‘Yang Memberi Kehidupan’.

Bagaimanakah awalan Anda untuk memulai hidup ? …

[ ... one more day to see Your beauty ... ]

Belajar Teguh

Belajar Teguh
bukanlah dari teduh
angin sepoi
air bening tenang
cuaca cerah
jalan melapang
berkat mengalir
dan hari-hari hanya damai

Belajar Teguh
terkadang tiba
kala jiwa resah
hati rusuh
jemari bergetar
kaki lunglai
namun terus melangkah
bersama Kristus

 [ Ang Tek Khun ]

Lord, U are my only strength …

… seirama dengan hatiMu …

Ajari aku mengerti perasaanMu

mengerti detak jantungMu

Biarkan aku punya keintiman hanya denganMu

sampai Kau dapati hatiku

seirama dengan hatiMu …

Terimakasih untuk sebuah kesederhanaan cinta …

Aku masih mengingat binar di matamu saat ada jeda untuk bersua

Aku masih mengingat betapa engkau berupaya mengenalku dengan cara yang ajaib

Aku masih mengingat betapa berharganya waktu yang tercurah untuk kita saling mengenal

Aku masih mengingat senyum simpulmu saat melihatku tersipu

Dan …

Aku masih mengingat hangatnya engkau menggenggam tanganku untuk memberi kekuatan mengakhiri hari

Berharap tidak ada jarak dan keterbatasan yang bisa memisahkan kita …

Kita memang ada dalam keterbatasan

Tapi cinta tidak mengenal keterbatasan

Ia akan menemukan beribu cara untuk mencapai kebahagiaannya

Ia tidak akan berhenti hanya karena sejuta aral

Cinta akan melampaui kemustahilan

Terimakasih untuk membawaku dalam kesederhanaan cinta…

“Miliki aku semampumu, sebanyak waktu yang kau punya …

Aku kan biarkan diriku jatuh di pelukmu…”