Archive | September 2008

… Saat Harus “Diam”…

Ada saat hidup begitu padat, ramai dengan segala macam agenda, sibuk oleh berbagai aktivitas, namun terkadang terasa ada sesuatu yang hilang. Ada secuil rasa kosong dirongga tubuh, yang bahkan terasa tidak mengenakkan meski roda kegiatan sedang dalam posisi super aktif. Terasa aneh namun itulah yang terjadi …

Ada waktu ketika otak begitu penuh dengan segala ide, pikiran dengan semua pemetaan rencana kerja yang harus dijalankan, dan darah meresponi dengan aliran yang kencang karena tingginya konsentrasi yang dibutuhkan, namun masih juga ada yang setitik rasa yang tiba-tiba menyeruak, bukan rasa yang membuat jadi lebih bergairah namun malahan rasa sedikit hampa. Aneh, namun itulah yang terjadi.

Ada saat mulut diharuskan mengeluarkan suara, memberi presentasi dan penjelasan panjang lebar, ruang diskusi menjadi riuh ramai oleh sekian banyak argumen dan usulan, jadwal rapat panjang pun menjadi agenda sehari-hari, begitu padat. Tetap saja, tidak menghapus sebuah ruang kosong di dalam diri. Lagi-lagi aneh, namun itulah senyatanya.

Ada kalanya waktu 24 jam sehari terasa begitu pendek, kurang malah.. karena masih saja ada PR yang belum terselesaikan padahal tenggat waktu tinggal menghitung detik. Begitu sibuknya…tetap saja, rasa aneh itu hadir dan tidak mau pergi.

Mencoba segala macam cara untuk mencari jawaban bagaimana mengusir si ‘rasa aneh’ itu….yang membikin rumah jiwa menjadi sunyi meski di tengah keramaian, membuat hampa yang menyesakkan, yang juga membuat hari-hari akhirnya tidak termaknai dengan sempurna. Sungguh mengesalkan !

Tidak mudah memang ketika berhadapan dengan situasi dan kondisi demikian. Rencana kerja dan kegiatan yang tersusun rapi menjadi tak berarti hanya karena sebuah ‘kehampaan’ jiwa.

Waktu yang berjalan menjadi tak berarti karena tidak memiliki ‘jiwa’. It’s nothing !

Masihkah kita terperangkap dalam kondisi demikian, tanpa tahu kapan dan bagaimana keluar dari ‘penjara’ itu ? Atau, malah kita sudah mulai ‘mati rasa’ sehingga tidak lagi peduli dengan segala kehampaan itu ?

Yang kita perlukan adalah berhenti sejenak dan berdiam dirilah. Itu adalah waktu kita untuk ‘diam’. Diam dari arus putaran kesibukan dan lalu-lalangnya segala yang dilabeli ‘deadline’, sehingga kita tidak lagi diperbudak oleh kegiatan namun menjadi pengatur jam-jam aktivitas yang diatur dengan bijak. Itu adalah saat kita harus ‘diam’ dalam hadiratNYA, yang sudah memberikan kita sebuah kehormatan  untuk menjalani hidup. Itu adalah waktu kita untuk ‘diam’, dan membiarkan DIA yang berbicara tentang kehendakNYA untuk kita. Itu adalah saat kita harus ‘diam’ untuk memberi telinga, mendengarkan setiap abjad yang akan dikatakanNYA. Itu adalah waktu yang tepat untuk kita ‘diam’ dan menyerahkan ‘kehampaan’ yang kita rasakan agar digantikan dengan keindahanNYA yang tak terbatas. ‘Diam’ menanti waktuNYA yang indah. Karena, DIA membuat segala sesuatu indah pada waktuNYA


*published at SENTUHAN KASIH – GKA Jogjakarta, April 15th, 2007 edition

… Ketika tiba saat menghadapNya …

Di dalam segala hal yang tak ku mengerti,

ku serahkan semua dalam tanganMu

Bukan kehendakku, namun kehendakMu

Ku percaya.. ku serahkan hidupku padaMu

Kau tahu yang terbaik, Kau tak merancangkan yang buruk bagiku

Dalam segala hal… Ku tahu Allah bekerja,

Allah bekerja tuk kebaikanku…

Kalimat yang diambil dari sebuah lagu rohani tertulis di inbox handphone milik seorang teman. Itu adalah rangkaian kalimat terakhirnya ketika dia diketemukan tewas dalam kecelakaan sepeda motor sekitar daerah Demak pertengahan tahun 2006 lalu. Tidak ada kalimat yang cukup untuk mewakili rasa kehilangan dan kedukaan yang dialami oleh segenap keluarga dan sahabatnya. Beratus kali pertanyaan “mengapa Tuhan?”, “mengapa dia yang kau ambil?” terus dilontarkan tanpa henti. Begitu banyaknya penghiburan yang diterima pun tidak mampu menghapus kesedihan yang dirasakan.

Begitulah kehidupan. Kematian adalah hal yang tak terhindarkan dari setiap manusia. Apapun penyebabnya. Dan, kata “mengapa” selalu mendominasi pikiran kita ketika diperhadapkan dengan berita kematian. Seperti kehidupan memiliki dinamikanya, demikian pula kematian memiliki misterinya. Banyak versi cerita di balik misteri kematian, namun lebih banyak lagi hal-hal yang tidak mampu kita mengerti dengan akal pikiran kita. Seringkali kematian diartikan sebagai peristiwa terburuk, rancangan yang bukan dari Tuhan bahkan banyak orang melihatnya sebagai musibah dan hukuman dari Tuhan. Namun, berbahagialah kita yang meninggal di dalam Tuhan, karena itu hanyalah keadaan sementara yang kita jalani sampai dengan masa kita dibangkitkan kembali. Waktu hidup yang diberikan kepada kita tidak bisa kita pilih dengan sekehendak hati. Itu adalah mutlak wewenang Tuhan. Ketika raga terpisah, tidak ada lagi hal yang bisa dilakukan. Jam kehidupan terhenti dan jam penantian dimulai.

Seseorang pernah mengatakan kepada saya, “pergilah ke makam ketika kamu menghadapi pilihan-pilihan sulit dan harus membuat keputusan besar dalam hidup.” Bukan berarti mencari petunjuk pada orang yang sudah meninggal, namun ketika kematian dimunculkan dalam fase pengambilan keputusan, kita akan lebih bisa menghargai kehidupan dan yang membuat kehidupan. Pertanggungjawaban hidup kita terhadap Tuhan menjadi hal yang mutlak dan tidak main-main. Setiap saat dalam waktu kehidupan menjadi lebih indah ketika kita mampu menempatkan kematian pada porsinya. Kesadaran kita bahwa setiap detik adalah anugerah menjadi pijakan dalam keseharian kita. Dan, pada akhirnya, kematian bagi orang yang percaya akan adanya kehidupan setelah kematian, bukanlah hal yang teramat menakutkan. “Berharga di mata Tuhan kematian semua orang yang dikasihiNya.”(Maz 116:15). Mari kita belajar melihat ‘kematian sementara’ juga sebagai keindahan. Karena, bukan kehendak kita yang jadi, namun kehendakNYA, dan apapun yang terjadi, Allah turut bekerja untuk kebaikan.

(in memoriam ‘adjie’) – DiDe

RA @old post

I wish…

… i wish i could say out loud to you that i don’t know how to spell this kind of love …

RA @ches, slo 09-2008,2

Bila…

Bila rasa mampu tertuang dalam balok nada

aku hanya ingin mendengar engkau memainkannya

dengan sepenuh hatimu …

Bila rasa lebih mampu terucap dalam kata-kata

suatu hari aku akan mendengarkan engkau mengatakannya

dengan segenap dayamu …

[ Aku sudah mengucapkannya, jauh sebelum aku mampu mengejanya

meskipun dengan keterbatasanku ]

RA @ches, slo 09-2008