Ada saat hidup begitu padat, ramai dengan segala macam agenda, sibuk oleh berbagai aktivitas, namun terkadang terasa ada sesuatu yang hilang. Ada secuil rasa kosong dirongga tubuh, yang bahkan terasa tidak mengenakkan meski roda kegiatan sedang dalam posisi super aktif. Terasa aneh namun itulah yang terjadi …
Ada waktu ketika otak begitu penuh dengan segala ide, pikiran dengan semua pemetaan rencana kerja yang harus dijalankan, dan darah meresponi dengan aliran yang kencang karena tingginya konsentrasi yang dibutuhkan, namun masih juga ada yang setitik rasa yang tiba-tiba menyeruak, bukan rasa yang membuat jadi lebih bergairah namun malahan rasa sedikit hampa. Aneh, namun itulah yang terjadi.
Ada saat mulut diharuskan mengeluarkan suara, memberi presentasi dan penjelasan panjang lebar, ruang diskusi menjadi riuh ramai oleh sekian banyak argumen dan usulan, jadwal rapat panjang pun menjadi agenda sehari-hari, begitu padat. Tetap saja, tidak menghapus sebuah ruang kosong di dalam diri. Lagi-lagi aneh, namun itulah senyatanya.
Ada kalanya waktu 24 jam sehari terasa begitu pendek, kurang malah.. karena masih saja ada PR yang belum terselesaikan padahal tenggat waktu tinggal menghitung detik. Begitu sibuknya…tetap saja, rasa aneh itu hadir dan tidak mau pergi.
Mencoba segala macam cara untuk mencari jawaban bagaimana mengusir si ‘rasa aneh’ itu….yang membikin rumah jiwa menjadi sunyi meski di tengah keramaian, membuat hampa yang menyesakkan, yang juga membuat hari-hari akhirnya tidak termaknai dengan sempurna. Sungguh mengesalkan !
Tidak mudah memang ketika berhadapan dengan situasi dan kondisi demikian. Rencana kerja dan kegiatan yang tersusun rapi menjadi tak berarti hanya karena sebuah ‘kehampaan’ jiwa.
Waktu yang berjalan menjadi tak berarti karena tidak memiliki ‘jiwa’. It’s nothing !
Masihkah kita terperangkap dalam kondisi demikian, tanpa tahu kapan dan bagaimana keluar dari ‘penjara’ itu ? Atau, malah kita sudah mulai ‘mati rasa’ sehingga tidak lagi peduli dengan segala kehampaan itu ?
Yang kita perlukan adalah berhenti sejenak dan berdiam dirilah. Itu adalah waktu kita untuk ‘diam’. Diam dari arus putaran kesibukan dan lalu-lalangnya segala yang dilabeli ‘deadline’, sehingga kita tidak lagi diperbudak oleh kegiatan namun menjadi pengatur jam-jam aktivitas yang diatur dengan bijak. Itu adalah saat kita harus ‘diam’ dalam hadiratNYA, yang sudah memberikan kita sebuah kehormatan untuk menjalani hidup. Itu adalah waktu kita untuk ‘diam’, dan membiarkan DIA yang berbicara tentang kehendakNYA untuk kita. Itu adalah saat kita harus ‘diam’ untuk memberi telinga, mendengarkan setiap abjad yang akan dikatakanNYA. Itu adalah waktu yang tepat untuk kita ‘diam’ dan menyerahkan ‘kehampaan’ yang kita rasakan agar digantikan dengan keindahanNYA yang tak terbatas. ‘Diam’ menanti waktuNYA yang indah. Karena, DIA membuat segala sesuatu indah pada waktuNYA
*published at SENTUHAN KASIH – GKA Jogjakarta, April 15th, 2007 edition