Biasanya harapan muncul karena ketidakpuasan terhadap sesuatu sehingga ber’harap’ untuk bisa merubah keadaan. Biasanya harapan lahir dengan suatu kesadaran diri sendiri, bahwa ‘ya, ini yang aku harapkan’, bukan karena mengikuti arus harapan kebanyakan orang.
Saya tergelitik dengan syair ‘ajar aku berharap’ saat menyanyikan sebuah lagu. Jiwa saya menjadi berdebar ketika melafalkan kalimat tersebut. Mengapa saya harus belajar berharap dari pihak lain? Apakah saya sudah tak berkeinginan sehingga tak memiliki secuilpun harapan? Saya melihat bahwa saya masih hidup dan bernafas dan saya terlalu percaya bahwa seorang yang memiliki kehidupan pastilah tak akan lepas dari keinginan-keinginan yang melahirkan harapan. Namun, jiwa saya mengaminkan ketika kalimat tersebut di atas dilafalkan, bahkan saya mendapati jiwa saya mengiba dalam mengucapkannya.
‘Ya, ajar aku berharap hanya kepadaMu’ telah menampar keakuan saya. Bahwa saya adalah sebuah karyaNya, tidak lebih dari itu. Sebuah karya tidak akan melebihi penciptanya. Sebuah karya akan seturut dengan kehendak penciptanya. Sebuah karya akan berjalan sesuai dengan waktu yang ditentukan penciptanya.
Dimanakah saya sekarang ? Padahal saya justru sibuk untuk membangun gunung-gunung keinginan pribadi yang tak satu pun dikonfirmasikan dengan pencipta saya. Saya lebih memilih untuk menimbang-nimbang sebuah tugas berdasarkan kesukaan belaka. Saya juga lebih sering mendahulukan cara pandang yang instan atas nama sebuah kemalasan. Betapa bodohnya saya selama ini …
‘Ajarku berharap hanya kepadaMu…’ akhirnya menjadi awalan kalimat saya untuk membuka sebuah dialog hati dengan Sang Pencipta. Itu adalah pengakuan saya akan kebesaran dan kemahakuasaanNya. Bahwa saya ada di dalam tangan kuasaNya. Jika Ia mau, saya akan menjadi debu dengan sangat cepatnya. Saya bisa menjadi apa saja seperti yang dikehendakinya.
‘Ajarku berharap hanya kepadaMu…’ adalah persembahan hidup saya untuk mengakui kedaulatanNya. Bahwa, sebuah karya akan belajar dari penciptanya, bahkan hanya untuk berharap.
Ajarku berharap hanya kepadaMu…untuk Engkau jadikan karya yang indah sesuai dengan waktuMu, meskipun Engkau memberiku kehendak bebas.
Bagaimanakah Anda berharap ?
[ inspired from ‘jadikan aku indah’ song by GMB ]
hehe…halooo…sudah lama tidak kontekan,ehh pas banget baca artikel yang sangat indah ini…
“Hope”
harapan…ketika berbicara harapan, tentu saja itu secara tidak langsung berkaitan dengan impian, cita2…
contoh: aku ingin nasi goreng, duh, impianku makan nasi goreng, semoga ada lewat abang nasi goreng…
semoga adalah kata yang pas dan seringkali digunakan untuk mengutarakan harapan…
harapan adalah sesuatu yang gratis…dan ketika alam menyetujuinya, bukan tidak mungkin harapan itu akan jadi hasil…(self-fulfilling propechies)^^